Bekantan di Tengah Kota Tarakan

Pulau kecil ini sudah jadi titik strategis sejak awal minyak dieksploitasi. Ternyata, potensi hasil lautnya pun luar biasa. Kini punya keunikan lain: konservasi mangrove dan Bekantan di tengah kota, satu-satunya di Indonesia.

Minyak. Itu dia sebabnya. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa Jepang sudah lama melirik Tarakan. Bahkan telah menggelar operasi intelejen dengan melakukan infiltrasi, sebelum meletusnya Perang Dunia II. Tak banyak orang pula memperhatikan bahwa ketika perang meletus, yang pertama dilakukan Jepang adalah menduduki Tarakan. Pihak Jepang tahu, bahwa deposit minyak di Tarakan bukan saja besar, tetapi juga murni, tinggi kualitasnya. Untuk ukuran mesin-mesin saat itu, minyak yang menyembur dari perut bumi Tarakan tidak perlu disuling lagi, bisa langsung masuk ke tangki mesin-mesin perang mereka. Sebelum Jepang, Belanda sudah mengendusnya. Pemerintah Hindia Belanda, melalui perusahaan minyak mereka, BPM (Bataavishe Petroleum Maatchapij) menggelar pompa-pompa angguk dan sejenisnya, menusuk dalam ke tanah Tarakan, memancing “emas hitam” itu sejak tahun 1918.

tarakan-bekantan

“Sebenarnya bukan hanya minyak dan bahan mineral lainnya, di sini juga banyak perusahaan ekspor hasil laut dan komoditas lainnya. Banyak perusahaan yang operasional lapangannya di pulau-pulau atau daratan sekitarnya, tetapi membuka kantornya di Tarakan. Potensi hasil laut Tarakan besar sekali. Selain itu, perlu dicatat, Tarakan adalah kota transit ke wilayah lain di utara Kaltim, Kabupaten Nunukan misalnya, perbatasan, hingga wilayah Sabah di Malaysia,” jelas Muhammad Idrus, S.Ip., M.Si., Kepala Dinas Kebudayan Pariwisata dan Pemuda Kota Tarakan. Idrus benar, di pelabuhan Tengkayu I misalnya, setiap saat terjadi arus keluar masuk orang baik ke wilayah lain di Nunukan ataupun ke Sabah, Malaysia.

“Malaysia itu pintar mengemas wisata, meski secara potensi, kita jauh lebih besar. Tapi melihat klaim statistik kunjungan wisata ke wilayah-wilayah mereka di Sabah, semestinya kita punya jalur penerbangan langsung, antara Tarakan dengan kota-kota mereka, tidak perlu ke Jakarta atau Balikpapan,” tambah Idrus memberikan analisisnya.

tarakan-wisata

“Gampang saja menilai nilai ekonomi strategis sebuah kota, lihat saja ada berapa bank beroperasi di dalamnya. Di kota sekecil Tarakan beroperasi sembilan merek bank. Masing-masing bank ada yang punya lebih dari satu outlet. Bahkan ada yang khusus untuk nasabah premium. Persaingannya sengit,” pendapat Ir. Buhana Lewa, kepala cabang sebuah bank pemerintah di Tarakan yang mengamati perkembangan bisnis dan ekonomi kota Tarakan ketika ditemui secara terpisah.

Ya, pulau seluas 657,33 km persegi yang dihuni 193.069 jiwa (hasil sensus tahun 2010) ini memang terletak di kawasan utara provinsi Kalimantan Timur. Pulau yang di dalamnya menyimpan kekayaan tambang seperti minyak, gas alam hingga batu bara itu punya tiga pelabuhan laut dan satu bandar udara. Yang menarik, kota yang telah mendapat berbagai penghargaan seperti Kalpataru dan Adipura ini punya slogan “Little Singapore”. Hal itu terpampang begitu kita keluar dari bandara Juwata. “Itu memang sudah ada sebelumnya. Maksudnya bukan untuk memromosikan Singapura. Tetapi bagi kami dan warga Tarakan, hal itu dilihat dari semangat kami untuk meniru Singapura, baik dari inisiatif untuk maju, disiplin, tertib dan kebersihannya,” jelas Idrus lagi. “Dan kami bekerja keras untuk itu. Lihat saja, Tarakan tergolong kota yang bersih,” tutupnya.

Sebuah kota kecil yang energik, strategis dan mencengangkan.

SITUS PERANG

Sebenarnya ada tiga kawasan di Tarakan yang punya rumah dengan atap lengkung seperti ini, yakni di Kampung Baru, Ladang dan Bengkok. Tetapi yang tersisa utuh adalah yang di Jl. Danau Jempang, daerah Kampung Baru, kota Tarakan. Rumah-rumah tersebut sebenarnya tangsi yang dibangun oleh tentara Sekutu Australia setelah merebut Tarakan dari kekuasaan Jepang. Tangsi ini kemudian menjadi tempat tinggal mereka sambil menunggu penarikan mundur ke negaranya. Kini, rumah atap lengkung yang tersisa itu dijadikan semacam galeri sejarah. Di sampingnya ada sebuah mobil Land Rover Defender yang sempat dijadikan “taksi” di Tarakan hingga akhir dekade 1980-an.

tarakan-pantai-dan-anggrek

PANTAI AMAL DAN KEBUN ANGGREK

Bagi warga Tarakan, pantai Amal bisa dibilang destinasi wisata bagi mereka. Ada dua lokasi tepatnya, pantai Amal Lama dan Amal Baru. Pantai yang menghadap ke timur ini ramai dikunjungi, apalagi pada akhir pekan. Jaraknya dari tengah kota Tarakan 11 km, atau bisa ditempuh dengan berkendara selama 20 menit. Nah, dalam perjalanan ke pantai Amal, ada destinasi wisata yang mungkin luput dari perhatian, yakni kebun anggrek milik pemerintah kota Tarakan. Di lahan seluas satu hektar itu terdapat lebih dari 20.000 pohon anggrek yang berasal dari 14 jenis spesies anggrek dendrobium. Termasuk di dalamnya spesies langka, yakni anggrek hitam.

ADAT TIDUNG

Suku Dayak Tidung adalah suku asli yang menghuni Tarakan, dengan karakter sebagai suku maritim. Suku ini termasuk suku penjuang, yang ikut bergerilya melawan Belanda, sehingga karena konsentrasinya berperang, maka bisa dibilang suku Dayak Tidung tidak memiliki “keraton” secara khusus. Maka baru pada tahun 2004 mulailah dikonstruksi sebuah balai adat untuk Dayak Tidung di Jl. Yadi Bagu, Tarakan Barat. Pembangunannya baru rampung dua tahun kemudian dan diberi nama Baloy Adat Tidung Amiril Pengiran Djamaloel Qiram.

Di tempat inilah Kepala Adat Besar Dayak Tidung Kalimantan, Amiril Pengiran Mahkota Aji Raden Alam Adjin Pangeran Hadji Mochtar Basry Idris menggelar acara rutin seperti pertemuan seluruh kepala adat se-Kalimantan, biasanya pada bulan September. Di dalam rumah adat yang terbuat dari kayu-kayu keras macam bengkirai, lembasung, ulin ini tersimpan berbagai macam-macam pusaka sejak zaman dulu. Juga tiga buah cottage yang bisa disewakan serta sebuah toko cindera mata. “Pada bulan Suro biasanya ada acara pemandian Mandau pusaka,” imbuh HA Eddy Wijaya yang mengurus balai adat tersebut.

tarakan-tradisi-masyarakat

IRAW TENGKAYU

Masyarakat Tarakan punya berbagai tradisi yang berkembang hingga kini dan berasimilasi dengan atmosfer Islam. Antara lain pesta adat sebagai ujud rasa syukur terhadap hasil laut yang melimpah. Masyarakat setempat menyebutnya “Iraw Tengkayu”. Acara ini berlangsung dua tahun sekali, dan pada tahun ini dilangsungkan pada bulan Desember. “Acara ini sudah kami gelar sejak tahun 2001, dua tahun sekali dan sudah enam kali kami gelar,” jelas Muhammad Idrus, Kadis Budparpora Pemkot Tarakan. “Pada acara itu, perwakilan dari 23 etnis yang ada di Tarakan akan berpartisipasi,” imbuh Idrus. Menurutnya, Iraw akan digelar mulai tanggal 18 Desember hingga pergantian tahun. Hal itu memang diselaraskan dengan ulang tahun kota Tarakan yang jatuh pada 15 Desember.

KAWASAN KONSERVASI MANGROVE & BEKANTAN

Kabarnya, ada sekelompok wisatawan dari Italia yang kerap berkunjung ke Kawasan Konservasi Mangrove Bekantan (KKMB) di Tarakan. Awalnya mereka tidak percaya, apakah benar ada hutan mangrove di tengah kota. Makanya mereka penasaran datang untuk membuktikannya. Dan ketika terbukti, mereka malah ingin tinggal dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun mereka berharap ada home stay sebagai pengganti hotel untuk tempat tinggal dikarenakan berencana berada di Tarakan dalam jangka waktu cukup lama. Itu sekelumit cerita yang kami dengar dari beberapa pihak sebelum kami mengunjungi dan melihat langsung KKMB. Benarkah demikian?

Yang dimaksud KKMB ternyata memang ada di tengah kota. Dari pusat kota, perempatan Grand Tarakan Mall, ambil jalan Gajah Mada, mengarah ke pelabuhan Tengkayu II. Tidak jauh. Bahkan sebenarnya bila jogging pagi dari hotel Swiss-Bell tempat kami tinggal rasanya tak masalah. Ya, di sebelah hutan konservasi mangrove ini ada tanah milik sebuah perusahaan, sementara di sebelahnya sudah deretan toko-toko. Awalnya, luas KKMB hanya 9 hektar, namun belakangan berkembang menjadi 21 hektar. Untuk menikmatinya disediakan jembatan berkelok-kelok di atas akar-akar bakau, membelah rerimbunan.

Pagi hari juga adalah waktu untuk bekantan makan. Bekantan? Ya, bekantan alias Nasalis larvatus adalah sejenis kera berhidung besar yang hanya terdapat di Indonesia. Warga Tarakan menamainya “Monyet Belanda”. Hewan ini sudah jadi ikon pariwisata di Indonesia. Per tahun 2007 tercatat ada 47 ekor bekantan di dalam KKMB. Aak sulit melihat mereka dari dekat. Karena bila didekati mereka akan berlari menjauh, lalu memanjat cabang-cabang pohon.

Di KKMB, selain 11 jenis mangrove, terdapat berbagai pepohonan lainnya. Selain itu ada juga kera hitam-abu-abu (Trachypitechus villosus) yang mudah kita temui duduk-duduk di pepohonan dan berang-berang (Aonyx cinera). “Namun berangberang agak jarang, itu untung-untungan, saya hanya sempat ketemu satu-dua kali,” ujar Rahma, petugas Dinas Budparpora di KKMB. “Tapi kalau air surut kita bisa dapat kepiting kecil-kecil yang warna-warni, bisa sampai 12 warna,” tambahnya.

Pepohonan tinggi di KMB di KKMB menjadikan kawasan konservasi ini sejuk dan nyaman, seperti sebuah oase di tengah hiruk-pikuk kota Tarakan. Dengan harga tiket masuk Rp3.000 untuk dewasa dan Rp 2.000 untuk anak-anak, benefit yang diperoleh pengunjung sebenarnya luar biasa; baik dalam konteks wisata, pelestarian lingkungan dan ilmu pengetahuan. Bahkan gaya hidup sehat. Rasanya saya baru lihat hal seperti ini di Indonesia, sehingga saya hanya bisa menulis satu kata di buku tamunya: Amazing!

KULINER: MENGINCAR KEPITING SOKA

Ternyata banyak wisatawan asing dari close border macam Malaysia, Brunei dan Singapore diam-diam datang ke Tarakan
hanya untuk makan kepiting. Kepiting?

tarakan-kuliner-kepiting

Ya. Kepiting dari Tarakan banyak diekspor. Tetapi di Tarakan sendiri kepiting banyak dikudap baik oleh warga lokal maupun pengunjung atau wisatawan. Di Jl. Mulawarman, yang terletak antara simpang empat mal Grand Tarakan sebagai hiposentrum kota, ke arah bandara Juwata terdapat beberapa restoran yang menjual kepiting. Di salah satu restoran itu, kami menikmati masakan kepiting yang dimasak dalam beberapa sajian seperti asam-manis, lada hitam dan goreng kering. Sementara di sebuah restoran yang lain, kepiting soka kami kudap seperti halnya cemilan. Nah, kepiting soka inilah yang diincar oleh wisatawan, baik domestik dan asing. Ya, dengan digoreng tepung, kepiting ini kami makan tanpa harus repot mengupas kulitnya. Maan langsung saja kulit lunaknya Khusus di Pantai Amal Lama, pengunjung bisa menikmati sajian “kappa”, yakni kerang yang berukuran agak besar.

Bicara soal pasokan sea food, banyak ikan dikeringkan dan dikemas sebagai oleh-oleh. Kemasan ikan kering tipis dan berbagai oleh-oleh lainya bisa diperoleh di beberapa pasar tradisional seperti pasar Beringin atau Pasar Batu. Di Pasar Batu, yang kerap didatangi pengunjung dari luar Tarakan juga dijual berbagai makanan kemasan lainnya.

Tapi terus terang, kami belum puas kalau berkunjung ke sebuah kota belum menemukan warung kopi. Rasanya ada yang “janggal”. Meski kadang bukan hanya kopi yang kami hirup, tetapi juga teh atau minuman khas lainnya. Di Jl. Yos Sudarso, Tarakan, ada warung kopi “Indra” seperti tertulis di papan namanya. Tetapi warga Tarakan lebih mengenalnya sebagai warkop Aseng. Pemiliknya bernama Aseng, keturunan Cina yang sudah lama bermukim di Tarakan. Warung ini ramai dikunjungi berbagai kalangan di Tarakan. Menunya kopi, kopi susu, teh, teh tarik, teh cinta dan berbagai penganan lainnya seperti roti, kue hingga bakpao.

Uniknya, bakpao bahkan roti yang dijual di warkop ini dibuat sendiri, alias home made. Demikian pula selai srikaya. Soal bakpao, yang berisi ayam, kacang tanah dan kacang hijau, warkop ini bisa menjual hingga 1.000 buah per harinya. “Tapi kami juga mengantisipasi bila pengunjung perlu makanan lainnya. Makanya kami sediakan mie goring, bubur ayam dan bubur ikan,” terang Fenny, menantu Aseng yang melayani pagi itu dibantu lima orang awaknya.

Nah, ini dia, “bubur ikan”. Pertama kali dalam hidup ini kami mencobanya. “Kualitas rasanya tidak sama dengan dengan.. katakanlah ‘bubur ayam’ yang biasa Anda cicipi,” tantang Fenny tentang bubur yang dijual Rp 15.000 semangkuk itu.

Teks: Gegen|Foto-foto : Makhfudz, Ristiyono|Lion Magz-April 2011

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan