Sorong, Raja Ampat, Menyusuri Jejak para Raja

Alkisah, ada seorang wanita yang menemukan tujuh butir telur; empat menjelma menjadi empat orang pangeran. Sementara, tiga lainnya menjadi hantu, seorang wanita dan batu.

Beberapa dekade silam, nama Raja Ampat mungkin masih terasa asing ditelinga. Tak banyak yang mengetahui keberadaan daerah ini. Tapi kondisinya perlahan telah berubah. Kini, Raja Ampat mulai populer. Hal ini tak lepas dari alam bawah airnya yang begitu kaya, hingga akhirnya membawa Raja Ampat dinobatkan sebagai Jantungnya Karang Dunia.

Raja Ampat merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Barat, provinsi baru yang lahir setelah era reformasi. Terletak di sebelah barat kota Sorong, Kabupate Raja Ampat terbentuk pada tahun 2003 dan merupakan hasil pemekaran Kabupaten Sorong. Bentangan alam wilayah Raja Ampat didominasi oleh perairan dan kepulauan. Tercatat, jumlah pulau yang tersebar diwilayah ini mencapai lebih dari 600 pulau lebih, dengan pulau Waigeo, Batanta, Salawati, dan Misool sebagai empat pulau utama di wilayah ini.

Nama Raja Ampat sendiri sangat terkait erat dengan sebuah legenda yang masih mengakar kuat di wilayahnya. Alkisah, ada seorang wanita yang menemukan tujuh butih telur. Ia lalu merawat telur-telur tersebut hingga menentas. Dari semua telur tersebut, empat menjelma menjadi empat orang pangeran. Sementara, tiga lainnya menjadi hantu, seorang wanita dan sebuah batu.

Setelah dewasa, keempat pangeran berpisah dan tinggal di pulau berbeda. Seiring berjalannya waktu, mereka muncul sebagai pemimpin atau raja di wilayahnya masing-masing, yakni Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat. Raja Ampat memang termasuk wilayah yang masih baru dilihat dari usianya. Namun, bila melihat catatan sejarah, wilayah ini sesungguhnya telah muncul di abad ke-16 pada masa maraknya perdangangan rempah-rempah di dunia. Kala itu, di kawasan tersebut terdapat empat kerajaan (Pulau Waigeo, Salawati, Misool Timur dan Misool Barat). Kerajaan-kerajaan ini berada di bawah pengaruh Kerajaan Ternate dan Tidore di utara Maluku.

Sekitar tahun 1702, kapal-kapal dagang Belanda tercatat pernah mencapai wilayah Raja Ampat, dalam upayanya mencari rempah-rempah di Nusantara. Wilayah Maluku dan Raja Ampat sempat di kuasai oleh Inggris pada tahun 1810. Tapi kemudian beralih ke tangan Belanda.

Setelah Kesultanan Tidore tunduk kepada Belanda, wilayah Raja Ampat pun berada di bawah pengaruh Hindia-Belanda. Belanda pun menancapkan kekuasaannya atas Tanah Papua lebih kuat hingga tahun 1962. Setelah tujuh tahun berselang, tepatnya pada tahun 1969, Papua berikut Raja Ampat akhirnya kembali ke pangkuan Bumi Pertiwi.


Salah satu bukti otentik akan kisah empat raja di Raja Ampat bisa di jumpai di sebuah situs yang berada di kawasan Kali Raja. Di sini terdapat sebuah bangunan yang di dalamnya tersimpan telur dan sejumlah benda lain yang bersifat sakral. Menurut kepercayaan warga sekitar, pada hari-hari biasa tirai putih yang melindungi telur dan benda lainnya tidak boleh dibuka. Tirai tersebut hanya dibuka pada saat pelaksanaan ritual tahunan yang masih berlangsung hingga saat ini.

Seakan tersadar akan potensi wisata, lantaran banyaknya peziarah yang hadir, pemerintah setempat telah melengkapi situs Kali Raja dengan sarana penginapan untuk kenyamanan para tamu, ditambah fasilitas pendukung lainnya.

Ada sejumlah jejak Raja Ampat masa lalu yang masih bisa dijumpai. Dan tentunya menjadi bonus bagi para wisatawan. Tak jauh dari situs Kali Raja, tepatnya di kawasan pulau-pulau karang yang tersebar beberapa mil dari muara sungai, terdapat sejumlah gua alam yang dihias beberapa tengkorak dan tulang belulang manusia.


Tak di ketahui pasti siapa yang di makamkan di gua tersebut. Menurut sejumlah kalangan, tempat itu adalah makam para leluhur masyarakat Raja Ampat di masa kegelapan atau masa sebelum masuknya agama di kawasan ini. Jejak purba tersebut dapat di lihat dengan mudah. Siapapun yang merasa penasaran bisa melihatnya dari atas perahu atau speedboat.

Tak hanya gua tengkorak, ada pula jejak lain yang masih tersisa dan bisa disaksikan, yakni lukisan purba yang berbentuk telapak tangan. Ada yang menyatakan bahwa usia lukisan purba di dinding tebing ini usianya lebih dari 50.000 tahun. Lukisan kuno tersebut ada disekitar Teluk Mayalibit dan Pulau Misool.

Sejak resmi menjadi wilayah baru, Raja Ampat pun terus mempercantik diri. Roda pembangunan nampak jelas di Waisai, di Pulau Waigeo, sebagai ibukota kabupaten. Disana-sini nampak geliat pembangunan sejumlah gedung , seperti bangunan pemerintahan, sekolah, jalan raya, perumahan, rumah ibadah, dan sarana penunjang kota lainnya.

Di salah satu sudut kota berdiri sebuah bangunan yang populer dengan nama Gedung Pari. Sesuai dengan namanya, gedung ini memiliki gaya arsitektur unik, layaknya bentuk ikan pari. Hal itu di representasikan pada design ruang tamunya yang melebar dan lekukan koridor memanjang, layaknya tubuh dan ekor ikan pari.

Bangunan yang dirancang sebagai ruang serba guna ini pun seakan menjadi ikon kota Waisai. Berada di dataran tinggi, gedung kebanggaan warga Waisai dan Raja Ampat ini pun menyuguhkan panorama bentangan kota Waisai, terlindung lereng pegunungan hijau dan lautan yang nampak di kejauhan.

December 4, 2012, Papua|Batavia Air Inflight Magazine

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan