Himpitan Sejarah di Selatan Singapura

Singapura bukan hanya sebua kota untuk meeting, jalan-jalan, shopping dan atraksi wisata dan hiburan lainnya. Tapi di kota ini kita juga bisa belajar tentang sejarah Asia Tenggara modern, sekaligus potret evolusi kebudayaan dan peradaban bangsa-bangsa di Asia Tenggara, Cina hingga Asia Selatan dan Barat dalam sebuah ‘melting pot’ bernama Singapura. Tapi yang juga menarik adalah keyakinan mereka tentang hunian dan penghargaan terhadap sejarah, sehingga di Boat Quay, rumah toko yang dibangun sejak abad ke-19 yang dilestarikan seperti menjadi serambi muka yang berhimpit dengan gedung-gedung pencakar langit modern mereka. Kita bisa melihatnya dengan jelas hal itu di Boat Quay yang punya sejarah kental yang bertetangga langsung dengan “peta baru” Singapura yang mutakhir: Marina Bay, yang juga punya sejarah sama panjang.

Boat Quay

Sejak peletakkan dasar Singapura modern pada 1819, Singapore River telah menjadi urat nadi bagi kehidupan perdagangan Singapura. Tepi selatan ‘sungai’ itu, yang menjadi kawasan komersial dikenal sebagai Boat Quay. Inilah dermaga yang punya sejarah kental di Singapura. Boat Quay ini menjadi bagian paling sibuk dari pelabuhan lama Singapura, menangani tiga blok bisnis perkapalan pada kurun 1860-an. Lantaran bagian selatan sungai di sini bentuknya mirip perut ikan gurame yang menurut kepercayaan Cina berarti kekayaan dan kesejahteraan, maka banyak rumah toko dibangun di sini, bertumpuk-tumpuk.

singapura

Patung Sir Thomas Stamford Raffles berdiri gagah menandai tempat dimana dia mendarat pertama kali di Singapura pada 29 Januari 1819 (kiri).
Gedung-gedung pencakar langit sebagai pusat perkantoran berjajar di tepi Boat Quay (kanan).

Sebenarnya, pada era 1820-an, area ini masih berupa paya-paya, dengan rumah-rumah rakit yang dihuni para pedagang lokal, kemudian ditimbun dengan tanah. Pada 1822, Sir Stamford Raffles memutuskan bahwa sisi selatan sungai dikembangkan untuk pemukiman orangorang Cina yang dalam waktu singkat dipenuhi para pedagang dan buruh Cina. Pemukiman ini berkembang pesat ketimbang sisi utaranya yang digunakan untuk rumah-rumah orang Eropa, kantor dan gedung-gedung pemerintahan. Pada tahun 1960-an, era mekanisasi dan komputerisasi membuat pamor Boat Quay pudar. Apalagi September 1983 pelabuhan pusat kargo berteknologi tinggi mulai dibuka di Pasir Panjang. Boat Quay ditinggalkan.

Tahun 1986, Urban Redevelopment Authority mengumumkan rencana melestarikan Boat Quay sebagai bagian dari master plan melestarikan lingkungan Singapore River itulah kenapa kerumunan rumah toko itu tetap bertahan hingga kini. Awal era 1990-an, Boat Quay menjelma menjadi pedestrian mall dengan deretan restoran, pub, kafe. Di kawasan Boat Quay ini pula ada monumen Raffles, untuk memperingati pertama kalinya Sir Thomas Stamford Raffles mendarat di Singapura pada 28 Januari 1819, dan sejak itu sejarah Singapura berubah.

Kini tentu perdagangan perairan bukan lagi menjadi peran utama dalam bisnis di Boat Quay. Peran sosial-ekonomi Boat Quay bagi kota ini telah berganti dari perdagangan dan maritim komersial menjadi kearah pariwisata dan estetika zona komersial wisata bergandengan dengan Singapore River. Ya, kerumunan rumah toko di Boat Quay seperti menjadi halaman depan gedung-gedung tinggi bank dan jasa keuangan yang persis berdiri di belakangnya.

Marina Bay

Marina Bay adalah teluk dekat Central Area di bagian selatan Singapura. Inilah tujuan gaya hidup yang tidak pernah mati, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu. Sebagai kawasan bisnis, di Marina Bay-lah Singapura mengklaim sebagai salah satu pusat keuangan terkemuka di Asia. Dengan beberapa perampungan pada tahun-tahun belakangan ini, area ini menyediakan 2,82 juta meter persegi ruang kantor. Beroperasinya Marina Bay Sands Integrated Resort melengkapi eksistensinya sebagai distrik shopping dan entertainment yang selama ini ditopang Esplanade, Suntec City, Marina Square hingga Raffles City Shopping Centre. Sekaligus, hotel dan resort di kawasan ini sebenarnya membuat Marina Bay juga menjadi area hunian tingkat tinggi, sekaligus mahal. Inilah ikon baru Singapura.

singapura-2

Bangunan ini awalnya digunakan sebagai kantor pemerintahan sebelum menjadi Empress Place Museum pada 1989. Kemudian mengalami renovasi dan dibuka kembali pada 2 Maret 2003 menjadi Asia Civilization Museum

Peta Singapura memang berubah dari masa ke masa, karena kawasan ini adalah hasil reklamasi. Dimulai pada era 1970-an, membentuk apa yang kita kenal sekarang sebagai Marina Center dan kawasan Marina Selatan. Dalam proses reklamasi ini, Teluk Ayer Basin hilang dari peta, sementara muara sungai Singapore River kini mengalir ke teluk, alih-alih langsung ke laut seperti sebelumnya. Pada tahun 2008, Marina Barrage dibangun sebagai pasokan air, kontrol banjir sekaligus atraksi gaya hidup baru. Pada tahun yang sama, 28 September, Singapore Grand Prix digelar di jalan-jalan Marina Bay, sebuah sirkuit jalanan layaknya Monaco. Inilah untuk pertama kalinya Formula One digelar pada malam hari.

Di seputaran Marina Bay, yang paling mencolok memang Marina Bay Sands, hotel sekaligus kasino kelas dunia yang luxurious. Tapi sebenarnya lagi-lagi kawasan Marina Bay punya nilai heritage tersendiri bagi Singapura. Di sini menjulang beberapa bangunan dan monument yang ikut dalam perjalanan sejarah Singapura antara lain Esplanade Park (1953), War Memorial Park (1967), St Andrew Cathedral (1861), The Padang (1822), National Art Galery (1939), Singapore Cricket Club (1884), The Art House (1827), Victoria Theatre & Victoria Concert Hall (1826), Asian Civilization Museum (1867), Cavenagh Bridge (1869), Ascot Raffles Place Singapore (1955) hingga Lau Pa Sat (1894). Tentu tak lupa ikon yang menjadi incaran wisatawan, Patung Merlion. Salah satu cara menikmati kawasan ini adalah dengan menaiki wahana Singapore flyer.

FOTO: MAKHFUDZ SAPPE|TEKS: GEGEN|LIONMAG MEI 2013

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan