Bertualang dari Medan hingga Sipiso-piso

Geliat perkembangan kota Medan seperti tak tertahankan lagi. Jantung ibukota Sumatera Utara ini tumbuh ke arah kota yang semakin modern. Pertumbuhan yang semakin cepat ini ditandai dengan berdirinya beberapa hotel bintang lima, apartemen, mal, resto dan cafe yang boleh dibilang menjadi salah satu ciri perkembangan dan gaya hidup masyarakat modern. Namun kali ini kita tidak akan bersibuk ria dengan kota Medan yang menurut saya sudah mulai terjadi kemacetan di beberapa titik yang tentu menambah keruwetan lalu lintas kota ini. Seperti halnya yang sering dilakukan orang Medan bila libur tiba maka daerah Berastagi dan sekitarnya menjadi tujuan utama untuk mengusir kepenatan guna mendapatkan kesejukan dan kesegaran kembali, refreshing!

medan-sipisopisomedan

Memang kurang afdol rasanya bila sudah sampai Medan tanpa berkunjung ke beberapa lokasi wisata yang sudah kesohor di sekitar kota ini. Petualangan kali ini kita akan ke Tanah Karo, tepatnya ke air terjun Sipiso-piso. Setelah semuanya dalam kondisi well prepare, perjalananpun dimulai. Yang perlu diingat bila ingin berwisata ke tempat ini lebih baik berangkat sekitar jam 6 pagi dari Medan agar kita memiliki waktu yang cukup untuk menikmati keindahan alam air terjun Sipiso-piso karena lokasinya yang cukup jauh dari Medan.

Menelusuri jalan Letjend Jamin Ginting di pagi hari memberi kesan sendiri. Jalan panjang yang berkelok berbalutkan hijaunya pepohonan meneduhkan setiap orang yang lalu lalang melintasinya. Pagi itu ada yang menarik perhatian sekaligus membuat jantung beberapa kali mau copot. Ya, ulah angkutan umum yang sarat penumpang dan barang jalan kebutkebutan saling mendahului seperti tak menghiraukan keselamatan orang lain pun dirinya sendiri. Wah! Rupanya pengemudi Metromini di Jakarta masih kalah jauh nekadnya dibanding trayek Medan-Berastagi ini. Tentunya kita harus ekstra hati-hati bila membawa mobil sendiri menyusuri sepanjang jalan ini. Jangan terbawa emosi saat berpapasan dengan angkutan tadi. Alih-alih ingin berwisata malah rumah sakit jadinya bila kita terpancing emosi saat membawa mobil! Loh kok malah membahas sopir angkot sih! Ok, kembali ke perjalanan kita…

medan-greenhillcity

Beberapa saat menyusuri kelak-kelok, naik-turun jalan Letjend Jamin Ginting membuat petualangan makin seru. Maklum, baru pertama kali ke tempat ini. Sampai di daerah Sibolangit ada arena bermain yang menarik perhatian dengan
bianglala besar bertengger di sisi kiri jalan raya. Tentunya sangat menarik perhatian buat setiap orang yang melintasinya. Tunggu, kita harus berhenti di sini, sayang untuk dilewatkan! seru seorang teman yang penasaran ingin melihat wahana yang mirip Dufan, Ancol ini. Benar saja, wahana permainan di Greenhill City ini cukup luas dengan berbagai arena bermain, seperti bianglala dan halilintar. Lumayan untuk meluruskan kaki dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Sipiso-piso.

BERASTAGI,

MANISNYA JERUK DAN MARKISA
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam sampailah kita di kota Berastagi. Daerah ini merupakan wilayah dataran tinggi pegunungan dengan ketinggian sekitar 4.594 kaki di atas permukaan laut. Biasanya orang Medan melepaskan diri dari rutinitas dengan berlibur ke sini. Dengan menyewa vila yang memang banyak terdapat di sekitar Bukit Gundaling, salah satu tujuan wisata favorit di Berastagi. Udara sejuk menjadi ciri khas daerah ini dan dari atas Bukit Gundaling kita bisa melihat lanskap kota Berastagi di antara hijaunya pepohonan yang memesona.

Selesai menikmati panorama Bukit Gundaling dan tentu saja tidak lupa mencicipi manisnya jagung bakar kita segera turun. Jangan lupa beli markisa dan jeruk di pasar Berastagi ya, sela seorang teman diantara perbincangan seru di dalam mobil. Daerah ini memang terkenal dengan buah markisa dan jeruknya selain juga buah lainnya seperti terung Belanda. Jadi, rasanya kurang afdol kalau tidak membeli buah yang satu ini bila kita sudah menginjakkan kaki di Berastagi. Selesai acara memborong buah, perjalanan berlanjut ke Kabanjahe.

Dalam perjalanan ke Kabanjahe, di kanan kiri jalan nampak beberapa petani lokal yang sedang membersihkan wortel hasil panen mereka menjadi pemandangan yang tidak akan pernah dijumpai di kota Medan. Sekitar empat puluh menit menyusuri jalan pedesaan sampai juga di Kabanjahe. Sepanjang perjalanan itu banyak dijumpai rumah makan khas Karo atau sering juga disebut Lapo. Nah, ini yang saya tunggu-tunggu menikmati salah satu makanan khas Karo yang cukup terkenal dan wajib dicoba, BPK (Babi Panggang Karo). Tapi jangan kuatir kalo mencari menu yang halal disini juga banyak kok, cukup mencari warung makan yang didepannya diberi tanda MUSLIM atau halal.

SIPISO-PISO, PISAUNYA ORANG KARO

Selesai menyantap BPK, perjalanan dilanjutkan ke arah utara Kabanjahe. Sekitar 24 km dari Kabanjahe objek wisata air terjun Sipiso-piso berada, tepatnya di desa Tongging. Piso dalam bahasa Karo artinya pisau. Konon nama Sipisopiso diibaratkan dari derasnya air yang turun dari atas ketinggian sekitar 120 m ini menyerupai pisau-pisau tajam yang menghunjam ke tanah membentuk aliran sungai menuju danau Toba.

medan-berastagimedan-jeruk-markisa

Luar biasa! Serempak kalimat ini keluar dari bibir saat menyaksikan keindahan alam air terjun Sipiso-piso. Selain udara yang sejuk, pemandangan yang indah dengan bukit-bukit yang ditumbuhi pohon pinus serasa mengapit danau Toba yang
nampak dari kejauhan di bagian utara objek wisata ini. Untuk mencapai dasar pancuran air terjun yang membentuk aliran sungai, kita harus turun melewati ratusan anak tangga. Perjalanan yang tidak mudah dan menantang, namun bila dibanding dengan keindahan yang bakal dilihat semua kelelahan menjadi tidak ada artinya. Setapak demi setapak anak tangga harus dilalui dan di tengah perjalanan ada semacam bangunan kecil seperti gardu pandang dimana kita bisa istirahat sejenak sambil menikmati indahnya pemandangan di seputar air terjun Sipiso-piso ini. Di sebelah utara diantara bukit-bukit kita bisa melihat luasnya danau Toba yang sudah begitu terkenal sebagai objek wisata andalan Sumatera Utara.

Air yang begitu jernih dan dingin akan menyambut kita begitu sampai di dasar. Kesejukan air terasa menyegarkan kaki danseluruh badan setelah berjalan menyusuri ratusan anak tangga dan rasa lelahpun sirna. Puas bercengkerama dengan alam dasar air terjun Sipisopiso, tantangan berikutnya adalah jalan pulang yang menanjak menghadang di depan mata. Ah, seandainya ada kereta gantung…, gumam saya dalam hati sambil meniti setapak demi setapak anak tangga. Beristirahat sejenak begitu berhasil sampai atas adalah langkah yang tepat guna melemaskan otot-otot kaki setelah bekerja keras mendaki. Dan sebelum pulang, ada baiknya kita mencari souvenir yang banyak dijajakan di kios-kios sepanjang area parkir. Pengalaman yang tak mudah dilupakan. Dan dalam perjalanan pulang ke Medan, hanya tersisa guratan dalam kalbu, Sipiso-piso…pesonamu bak pisau yang menghunjam tajam dalam kalbu membuatku berseru…aku kan kembali menikmatimu dilain waktu.

TEKS DAN FOTO: RISTIYONO|Wings Magazine Juli-Agustus 2010

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan