Rambu Solo, Tana Toraja, Makassar

Meski menelan biaya hingga ratusan juta rupiah atau lebih, upacara Rambu Solo di Tana Toraja terus berlangsung sebagai identitas kebudayaan. Sebenarnya, inilah cermin sikap tolong-menolong, gotong-royong hingga menghormati orang tua.

Akhir Desember tahun lalu seorang teman dari Reuters mengajak ke Tana Toraja menyaksikan acara adat Rambu Solo. Ini acara yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir, Datu Sarongaloo akan diupacarakan, demikian promosi teman tadi. Sebenarnya saya sudah menyaksikan beberapa kali Rambu Solo di Tana Toraja tapi acara unik ini tetap saja selalu menarik untuk dilihat, setiap Rambu Solo berbeda, karena lokasinya yang selalu berubah.

Dari Bandara Hasanuddin, Makassar perjalanan dilanjutkan dengan mobil selama 8-9 jam untuk sampai ke Rantepao. Ada beberapa perusahaan bus yang melayani rute Makassar-Rantepao dengan tarif antara Rp80.000 hingga Rp130.000. Saya melanjutkan perjalanan ke Rantepao malam hari. Bagi yang melakukan perjalanan siang hari bisa menikmati pemandangan pesisir pantai barat Sulawesi Selatan, begitu memasuki daerah Enrekang pemandangan pegunungan sangat menarik selama perjalanan.

Sesampai Rantepao tidak terlalu banyak yang berubah dari kunjungan saya beberapa tahun lalu, kecuali lalu lintas kendaraan yang tambah padat. Dan sekarang wilayah Tana Toraja sudah terbagi menjadi dua kabupaten, Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara. Kota Rantepao ini ada di Toraja Utara. Dalam masyarakat Toraja beberapa adat budaya leluhur masih lestari sampai hari ini. Antara lain Rambu Tuka, upacara naik rumah baru dan Rambu Solo, upacara kematian. Dalam kepercayaan Aluk Tudolo, seorang yang meninggal dunia dianggap belum betul betul meninggal dunia jika belum dipestakan, yang meninggal dianggap sakit. Jadi mereka tetap disemayamkan dalam rumah dan tetap disediakan rokok atau kopi layaknya masih hidup.

Upacara Rambu Solo ini dimaksudkan untuk mengantar arwah ke alam selanjutnya, Puya, alam arwah dan persembahan persembahan itu adalah bekalnya. Bagi keluarga yang ditinggalkan wajib melaksanakan pesta Rambu Solo sebagai penghormatan terakhir kepada almarhum.

Datu Sarongallo

Ibu Agnes Datu Sarongallo adalah bangsawan terpandang di daerah Siguntu. Sejak bulan Agustus 2011 setelah Ibu Agnes meninggal dunia dalam usia 72 tahun, jasadnya disemayamkan di rumahnya, di Tongkonan Siguntu, beberapa kilometer dari kota Rantepao. Tidak perlu menunggu lama jenazah Ibu Agnes untuk diupacarakan, praktis hanya empat bulan sejak meninggalnya, upacara Rambu Solo siap digelar.

Tidak jarang seseorang yang meninggal dunia jasadnya harus menunggu bertahun tahun kemudian dilepas dalam upacara Rambu Solo. Acara Rambu Solo ini dimulai hari itu, 25 Desember 2011, rangkaian acara Rambu Solo ini bisa sampai sepekan. Ini termasuk Rambu Solo Sapurandanan, pesta yang lengkap, bukan hanya kerbau dan babi yang menjadi persembahan tapi juga ada rusa dan kuda, jelas Endy yang masih keponakan dari Ibu Agnes.


Mengantar ke Lakkiang

Hujan gerimis terus berlangsung saat persiapan acara mengarak jenazah tidak mengurangi khidmat prosesi ini. Setelah kebaktian dan makan siang, jenazah akan diantar ke Lakkiang. Disini jenazah akan menunggu sebelum acara penguburannya. Jenazah dimasukkan kesebuah keranda beratap Tongkonan Toraja selanjutnya diarak, cucu almarhum dengan berbaju putih berbaris didepan jenazah, dan para keluarga berbaris dibawah bentangan kain merah yang disebut lamba lamba.

Iringan panjang lamba lamba merah mengikuti keranda jenazah yang diarak menuju ke Rante, lokasi tempat Rambu Solo dilaksanakan dan akan disemayamkan di Lakkiang. Ribuan orang menyaksikan prosesi ini, antara lain terlihat Prabowo Subiyakto, beberapa anggota DPR RI dan Gubernur Sulawesi Selatan. Setelah mayat disemayamkan di Lakkiang, acara penerimaan tamupun dimulai, ini biasa berlangsung beberapa hari. Para rombongan keluarga dari berbagai daerah berdatangan memberikan penghormatan terakhir kepada almarhumah sambil membawa persembahan berupa kerbau dan babi.

Kerbau- kerbau persembahan ini berharga puluhan sampai ratusan juta rupiah perekor. Salah satu rombongan keluarga sore itu ada yang membawa kerbau belang (Tedong Bonga) berharga 360 juta, wah.. ini seharga sebuah mobil!

Disinilah mahalnya sebuah acara Rambu Solo. Dalam satu kali perayaan puluhan bahkan lebih seratus kerbau dan babi dipersembahkan. Bisa dibayangkan berapa biaya keseluruhan pesta ini. Di Toraja kerbau kadang menjadi alat ukur status sosial, bila seekor kerbau harganya tinggi maka semakin tinggi pula gengsi yang didapat.

Para rombongan keluarga dijemput oleh barisan penjemput yang berpakaian adat kemudian diantar ke bangunan tengah yang menjadi bangunan penerima tamu. Tidak jauh dari tempat penerimaan tamu sekelompok orang berpakaian hitam melakukan ritual ma’badong, sambil bepegangan tangan membuat lingkaran menyanyikan syair-syair sedih.

Selanjutnya para tamu diantar ke lantang, rumah- rumah Tongkonan yang dibuat dari bambu dan kayu yang sudah disiapkan bagi para keluarga yang datang selama acara pesta berlangsung.

Menjelang sore, setelah penerimaan tamu diadakan acara hiburan yaitu mappasilaga tedong, adu kerbau. Inilah acara yang palingmeriah dan ditunggu -tunggu penonton. Acara ini dilakukan setiap hari selama pesta berlangsung. Riuh sorak penonton meneriakkan kerbau jagoannya, dan taruhan diluar arena pun mengalir. Sore itu di dalam arena Bholongk dan Rambo sudah saling berhadapan, dua ekor kerbau ini siap bertarung. Terdengar beberapa kali bunyi keras saat kedua kepala kerbau saling bertubrukan. Akhirnya Rambo menyerah dan lari keluar arena menyeruduk liar kearah penonton hingga semua berhamburan menyelamatkan diri. Tidak bisa dibayangkan bagaimana jika terinjak kerbau seberat satu ton yang lari liar ini. Sebelum adu kerbau beberapa kali panitia melalui loudspeaker menyampaikan supaya penonton berhati hati, apabila ada yang terinjak kerbau bukan menjadi tanggung jawab keluarga atau anak cucunya, yaa.. resiko tanggung sendiri.

Penguburan

Pada hari terakhir Rambu Solo adalah acara Meaa, penguburan mayat. Dari Lakkiang jenazah diturunkan dan diantar ke tempat kuburan yang sudah disiapkan, yang akan menjadi tempat peristirahatan terakhirnya. Sehari sebelumya dilakukan Mattiggoro sekitar 30 kerbau sekaligus, dagingnya dibagikan ke masyarakat sekitar dan para tamu, hari ini menjelang penguburan beberapa kerbau yang tersisa dilelang dan hasilnya diserahkan ke tempat ibadah, gereja dan masjid. Menurut catatan panitia total kerbau yang dipersembahkan sebanyak 117 ekor, 5 diantaranya adalah Tedong Bonga.

Sekitar jam dua siang rombongan seluruh keluarga sudah mulai bersiap untuk mengantar jenazah ke peristirahatan terakhir dan melepas arwahnya ke Nirwana. Sebuah bangunan menyerupai Tongkonan dari beton tidak jauh dari tempat pesta menjadi kuburan Ibu Agnes. Penguburan ini akhir pesta Rambu Solo yang melibatkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit.

Sebenarnya, melalui upacara Rambu Solo ini, ada nilai yang ingin diwariskan oleh masyarakat Toraja yakni gotong-royong, tolong-menolong, kekeluargaan dan menghormati orang tua.

Tradisi ini tak berubah. Bagi orang Toraja, kematian bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses panjang menuju dunia arwah. Deretan makam di dinding tebing, dalam Gua Londa ataupun peti peti yang tergantung di Kete-Kesu menjadi saksi kepercayaan ini.

teks & foto: makhfudz sappe|May 2012|Wings Magz

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan Domestik