Batam

Pernah kita merasa begitu ingin memiliki kemajuan Singapura sampai kita membuat kembarannya, yaitu pulau BATAM. Alasannya sederhana: kita mengembangkan pulau yang samasekali baru ini, supaya memiliki semua kelebihan-kelebihan negara jiran kita. Mungkinkah?

batam

Sebagai kota terbesar di propinsi Kepulauan Riau, Indonesia, memang Batam adalah sebuah pulau yang sangat strategis, karena terletak di jalur pelayaran internasional. Kedekatannya dengan Singapura dan Malaysia membuat Batam menjadi salah satu kota dengan pertumbuhan terpesat di Indonesia.

Ketika mulai dikembangkan pada tahun tujuhpuluhan awal, kota ini hanya dihuni sekitar enamribuan penduduk. Namun menurut sensus penduduk Juni 2010, kota yang diharap menjadi kembaran Singapura ini telah berpenduduk 1.025.044 jiwa dan merupakan kota terbesar dan terpadat ketiga populasinya di Sumatra setelah Medan dan Palembang!

Jadi tidak sia-sia kita bermimpi menduplikat Singapura. Hanya bedanya, kalau disana arsitektur pencakar langit sudah sangat canggih dan menjadi kekaguman dunia, Batam baru mampu membangun deretan ruko, sehingga beken disebut dengan Kota Sejuta Ruko! Memang sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah hamparan bak pesawahan dari ratusan ragam ruko, sehingga seakan kota ini tidak memiliki landmark yang mudah ditengarai. Namun rupanya ia tidak berhenti sampai disana.

Pengembangan Pulau Batam terbagi dalam beberapa periode. Tahun 1971-1976 dikenal sebagai Periode Persiapan yang dipimpin oleh Dr.Ibnu Sutowo. Periode Konsolidasi (1976-1978) dipimpin oleh Prof.Dr.JB. Sumarlin. Periode Pembangunan Sarana Prasarana dan Penanaman Modal selama 20 tahun diketuai Prof.Dr.BJ. Habibie, dan sejak tahun 1998 sampai sekarang, di bawah kepemimpinan Ismeth Abdullah adalah Periode Pengembangan Pembangunan Prasarana dan Penanaman Modal Lanjutan dengan perhatian lebih besar pada kesejahteraan rakyat dan perbaikan iklim investasi.

Pulau Batam ditetapkan sebagai lingkungan kerja daerah industri dan dikelola oleh Badan Otorita Batam (BOB). Karena itu kota ini nyaris hanya mengembangkan dunia usaha dan sulit untuk menemukan peninggalan lama sebagai tujuan wisata. Hanya sebuah klenteng saja yaitu Vihara Budhi Bhakti Tua Pek Kong Bio yang dibangun sejak tahun 1970 dan dikunjungi oleh para peziarah dari luar negeri.

Lokasi lebih tua di dalam kota yang menunjukkan sisa kawasan asli adalah Tanjung Uma. Walau berasal dari suku Melayu, namun di kampung inilah kita dapat mengagumi daya juang semua suku-suku Indonesia yang merantau mencoba peruntungan di kota ‘baru’ ini. Di sini eksistensi kampung ‘terapung’ yang kumuh dan sesak mungkin segera akan berakhir dengan pembangunan jembatan dan perbaikan seluruh kawasan.

Kebanggaan klasik pulau Batam adalah keindahan Jembatan Barelang, penghubung p.Batam – p.Rempang – p.Galang sepanjang dua kilometer. Sebagai pembuka wilayah di selatan, fungsi jembatan ini memang masih perlu dinanti lebih jauh, karena selama ini lebih berperan untuk mengunjungi sisa kawasan penampung pengungsi di p.Galang.

Kawasan pengembangan wisata yang lebih modern ada di daerah Nongsa Point Marina dimana yacht mewah sedang bersanding dengan kapal phinisi bernavigasi modern. Di daerah utara Batam ini keluarga-keluarga dapat menikmati segala macam water sports, dan saat malam hari dapat menyeberang ke Singapura yang kerlip lampu menaranya tampak jelas dari kamar tidur kita!

Selain itu baru saja diresmikan Ocarina, kawasan wisata keluarga yang tampak dari kincir vertikal di tepian pantai. Kawasan ini termasuk proyek perumahan ambisius Coastarina, yang dirancang bak laguna raksasa dengan bagian tengahnya ditata menyerupai peta dunia dengan miniatur semua benua! Benua-benua itu akan menjadi lokasi pemukiman yang akan dikelilingi perairan dan kalau sudah selesai dalam enam tahun, akan menjadi salah satu kebanggaan Nusantara. Coastarina merupakan pemukiman yang terinspirasi Palm Islands di Dubai dimana akan dibangun seribu rumah di kawasan 150 hektare dengan total investasi sekitar Rp 570 mlliar – Rp 760 miliar.

MURI (Museum Rekor Indonesia) mencatat Coastarina untuk tulisan terbesar di Indonesia. Bahkan ada dua rekor lagi untuk pembangunan bola dunia dan peta dunia terbesar di dunia.

Skyline Batam yang modern di seberang pantai juga nampak asri dari Coastarina.

Dalam modernitas ini sulit terbayang betapa para pemilik sampan masih menyeberangkan warga ke Tanjung Uma selama lima menit saja dengan cara yang sudah terjadi berabad-abad. Bila perlu bukan dengan mendayung saja, tapi dengan mendorong sampannya di tengah lumpur kala air sedang surut!

Seseorang dianggap belum ke Batam bila belum menikmati Sup Ikan Yongky yang sangat beken. Di kawasan ruko yang terik, rumah makan berlantai dua ini selalu ramai dengan pengunjung. Hal lain yang menyolok dan rupanya menjadi ciri Batam adalah banyaknya TAS WANITA, ARLOJI dan KACAMATA yang dianggap murah meriah – asli atau ‘aspal’. Mungkin karena Batam masih kesulitan menemukan ikon dirinya, maka sementara dagangan ini saja yang bisa dianggap suvenir Batam.

Bagi mereka yang tur ke Singapura, belum lepas juga budaya membelikan oleh-oleh dari sana yang dianggap pasti lebih murah. Yang unik, untuk mengirit biaya, pelancong membelikan keluarganya T-Shirt SINGAPORE di Batam!

Dulu saat awal pengembangannya BATAM adalah akronim dari Begitu Anda Tiba Anda Menyesal, karena memang yang tampak hanya deretan ruko gersang dan kawasan-kawasan hutan yang dibuka untuk pemukiman. Namun dengan banyaknya rupiah melimpah dan fasilitas mewah yang sangat wah, mungkin sebutan itu harus dikoreksi: Begitu Anda Tiba Anda Melongo!

Teks & Foto : Paul I. Zacharia|OCTOBER 2010 LIONMAG

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan