Sungai-sungai Hingga Batu Mulia Banjarmasin

Terlalu lama saya mendengar tentang pasar terapung di Banjarmasin, sampai suatu subuh saya berada di dermaga yang terletak di depan mesjid Sutan Suriansyah, Banjarmasin. Waktu baru menunjukkan pukul 04.30 WITA, sebuah perahu bermotor sedang disiapkan. Kami sepakat membayar kepada pemiliknya, untuk mengantar kami ke pasar terapung. Langit masih pekat, angin mengantar titik-titik kecil air dari langit. Gerimis, langit menangis dalam gelapnya cuaca subuh. Dan kami terduduk diam dalam perahu bermotor yang bisa dihuni hingga 10 orang itu, yang bermanuver perlahan meninggalkan dermaga. Bagi saya, ini sebuah pengalaman baru. Tapi pertanyaannya, apakah ini inti dari pengalaman berwisata di Banjarmasin dan Kalimantan Selatan?

Di hotel Rotan Inn tempat kami bermalam, konon paling bagus di Banjarmasin, sebuah wallpaper besar yang merupakan hasil foto di pasar terapung itu memang senantiasa memikat mata. Tapi, ketika melewatkan waktu selama dua hari di Banjarmasin, saya sadar, itu cuma salah satu hal menarik. Karena kami juga sempat melihat para penari melenggokkan tari Galuh Dandaman dari Banjar dan tarian Tandik Balian dari Dayak. Kalau diperhatikan, tari Galuh Dandaman, yang sering ditarikan dalam menyambut tamu adalah tarian yang menyenangkan, energik, penuh senyum dan bisa dinikmati. Tarian ini bisa dinikmati banyak orang.

Seperti halnya kami bisa menikmati banyak varian kuliner yang menyenangkan selama di Banjarmasin. Mulai dari seafood dengan menu kerang hijau yang besar, paling besar yang pernah saya makan, kepiting, hingga ikan patin dalam berbagai sajian. Belum lagi soto Banjar dan beberapa varian sate di pinggir Sungai Martapura. Tapi tentu kita mesti pandai “berbagi”, karena kelak durian dan variannya juga butuh tempat. Meski dua hari di Banjarmasin sebenarnya belum cukup untuk melihat dan mencicipi banyak hal.

MESJID SULTAN SURIANSYAH

Masjid Sultan Suriansyah adalah masjid bersejarah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan Selatan. Masjid ini dibangun pada masa masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, Banjarmasin Utara, Banjarmasin, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama, ibukota Kesultanan Banjar yang pertama kali. Masjid ini letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah. Persis di seberangnya adalah Sungai Kuin. Bagian mihrab masjid ini punya atap tersendiri yang terpisah dari bangunan induk. Pola ruang pada masjid ini mirip dengan pola arsitektur Masjid Agung Demak yang dibawa bersamaan dengan masuknya agama Islam ke daerah ini oleh Khatib Dayan.

PASAR TERAPUNG BANJARMASIN

banjarmasin-pasar terapung

Akhirnya saya menemukan diri saya kembali, terayun-ayun ombak kecil di dalam perahu bermotor di atas Sungai Kuin menuju sungai yang lebih besar, Sungai Barito. Di sinilah lokasi pasar terapung itu. Sejak ufuk masih gelap, kami sudah bergerak pelan menelusuri bagian sungai dengan perlahan. Kadang berhenti. Hingga sampai pada satu bagian di mana mulai banyak gerakan perahu dan suara-suara orang. Tak lama terang ufuk, perahuperahu di sekitar kami semakin jelas. Para penjual menjual dagangannya menggunakan perahu kecil atau disebut “jukung”. Kebanyakan yang diperjualbelikan adalah buah, sayur dan makanan jajanan. Ada juga yang menjual makanan khas Banjarmasin seperti soto Banjar dan nasi kuning. Mereka menjual dagangannya dengan menggunakan jukung yang lebih besar, terapung di tengah sungai. Jika hendak membeli makanan, kapal pembeli harus didekatkan ke kapal penjual dan kemudian diikatkan dengan tali.

Untuk mengambil makanan seperti gorengan yang biasanya terletak di tengah jukung, kita bisa mengambilnya menggunakan tongkat yang disediakan oleh penjual. Di ujung tongkat tersebut ada semacam paku untuk menusuk dan kemudian mengambil makanan yang diinginkan.

Menurut hemat saya, pasar terapung ini tak seramai yang saya bayangkan. Jumlah perahu tak sebanyak yang saya bayangkan. Mungkin karena akses jalan darat untuk transaksi hasil kebun sudah mulai banyak, sehingga yang berjual-beli di pasar tersebut tak sebanyak atau sefantastis tahun-tahun sebelumnya. Di tengah luasnya sungai Barito, pasar di tengah sungai itu tampak tak terlalu ramai. Malah wisatawan dengan kamera atau membawa keluarga cukup banyak berseliweran dengan perahu-perahu motor sewaan mereka. Pemerintah setempat mesti memikirkan cara kreatif lainnya untuk mempertahankan daya tariknya sebagai salah satu tujuan wisata. Itu yang terpikir oleh saya ketika meninggalkan pasar yang pukul tujuh pagi itu mulai beranjak sepi.

JEMBATAN BARITO

Jembatan Barito, yang terletak di pinggir kota Banjarmasin, membelah Sungai Barito, Kalimantan Selatan. Dari ujung ke ujungnya, jembatan ini membentang sepanjang 1.082 meter. Lebar Sungai Barito di bawah jembatan itu sendiri 800 meter, ditambah Pulau Bakut yang berada persis di tengah Sungai, selebar 200 meter. Secara struktur, jembatan ini terdiri dari jembatan utama sepanjang 902 meter dan jembatan pendekat 180 meter. Adapun lebarnya 10,37 meter. Ketinggian ruang bebas jembatan utama 15-18 meter, sehingga bisa digunakan untuk lalu lintas perairan. Jembatan ini pertama kali diresmikan pada tahun 1997 oleh Presiden Soeharto. Pada sore hari, banyak orang berhenti di sekitar jembatan. Serombongan anak muda tampak asyik berfoto-foto di sekitar jembatan.

Saat ini transportasi angkutan hasil tambang, perkebunan dan kayu di wilayah pedalaman Sungai Barito masih mengandalkan angkutan sungai. Sore itu saya menikmati menatap kapal-kapal tongkang pengangkut batu bara melintas perlahan di kolong jembatan, sampai semakin kecil dan hilang sisa semburat warna senja di ufuk barat.

Sebuah suasana dengan nuansa berbeda dibanding pada siang sebelumnya kami menyantap soto Banjar di sebuah rumah makan persis di pinggir Sungai Martapura, di tengah kota Banjarmasin. Di sini jauh lebih hening. Tak apalah, hitung-hitung menikmati angin senja, mencari jeda di sistem pencernaan. Soalnya, sebelum ke Jembatan Barito, kami menghabiskan waktu menyantap durian dan papekan. Papekan adalah sejenis ‘durian’ yang bukan durian. Warnanya oranye. Tetapi aroma dan rasanya berbeda dengan durian asli. Papekan cenderung tawar. Dan malam ini, setelah dari jembatan, kami berencana menyantap ikan, udang, cumi dan kerang di sebuah restoran seafood di Banjarmasin. Kerang hijau di situ terkenal lezat dan berukuran besar. Dan itu benar, kami membuktikannya.

PASAR PERHIASAN MARTAPURA

banjarmasin-perhiasan martapura

Lima belas kilometer di utara Banjarmasin, terdapat kota Martapura, ibukota Kabupaten Banjar. Awalnya kota ini bernama Kayutangi, ibukota Kesultanan Banjar pada masa pemerintahan Sultan Adam. Martapura juga dikenal sebagai kota santri karena terdapat pesantren besar Darussalam. Tapi kini Martapura lebih dikenal oleh wisatawan sebagai pusat transaksi penjualan intan dan perhiasan, sekaligus ‘surga’ bagi penggemar batu mulia. Inilah yang banyak menyedot wisatawan, baik domestik hingga asing.

Kalau dari pusat kota Banjarmasin, Martapura ditempuh dalam satu jam perjalanan. Tapi bila dari Bandara Syamsuddin Noor,
Banjarbaru, cuma perlu setengah jam. Rute ini adalah jalan trans Kalimantan ruas Kalsel-Kaltim.

Julukan Kota Martapura sebagai “Kota Intan” memang ada sejarahnya. Sejak tahun 1950-an sampai sekarang, banyak pedagang intan melakukan perdagangan dan transaksi batu mulia yang menjadi ciri kota ini. Pada zaman pendudukan Jepang, ada semacam kewajiban bagi para pendulang untuk menjual intan-intan yang ditemukannya kepada orang-orang Jepang. Bahkan jadi upeti. Tapi belakangan, pendulang boleh menjual kepada saudagar lokal. Transaksi dilakukan secara tradisional. Penjual langsung ketemu pembeli, transaksi dan barang berpindah tangan. Ada uang ada intan. Tapi kini di pasar batu mulia ini bukan hanya perhiasan dan permata yang dijual, tapi sudah bercampur dengan berbagai souvenir khas Kalimantan Selatan, dari handy craft hingga tenunan.

Tepat setelah pasar intan terkenal tersebut berdiri megah sebuah masjid, yang diklaim sebagai masjid terbesar di Kalimantan
Selatan. Masjid ini dinamai seperti yang tertulis dengan huruf Arab di depannya, yakni Masjid Al-Karomah. Arsitekturnya bergaya masjid-masjid di Arab, karena masyarakat-masyarakat di Martapura kebanyakan keturunan Arab. Masjid ini punya kubah yang unik dengan warna-warna di puncaknya, dan juga dilengkapi dengan satu menara tinggi.

Never mind the surrounding, bagi saya membeli cindera mata ketika bepergian ke sebuah daerah juga penting. Di pasar perhiasan Martapura, saya juga sibuk mencari cindera mata. Dan ternyata menyenangkan juga melihat kreasi mereka dalam membuat berbagai perhiasan dengan batu-batu mulia itu. Menurut saya, ini salah satu yang bagian paling menyenangkan sepanjang kunjungan saya ke Banjarmasin.

Teks: A Gener Wakulu | Foto : Yusuf Ahmad|LIONMAG JANUARY 2011

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan