Balikbadan di Balikpapan

Sejak sekolah dulu kesan kita dari kota ini tentunya adalah kota penghasil dan pelabuhan minyak yang sangat penting di Kalimantan Timur. Siapa membayangkan bahwa seharusnya kota ini adalah sebuah kota pantai, yang layak jadi tujuan wisata? Namun itulah kota yang sekarang sedang bersolek menyambut kunjungan turis! Bukan hanya tehnisi dari industri pertambangan yang ada selama ini.

Yang menarik, tidak ada yang pasti bagaimana kota ini memiliki nama yang unik ini. Konon F. Valenijn pada tahun 1724 dalam bukunya menyebut suatu daerah di hulu sebuah sungai, sekitar lima kilometer dari pantai, yang bernama BILIPAPAN. Mungkin salah kaprah penyebutan membuat pedesaan di teluk itu sekarang dikenal sebagai Teluk Balikpapan. Tapi Valenijn juga menduga asal-usul nama Balikpapan bisa berasal dari legenda dari sebuah kejadian padatahun 1739. Saat itu Sultan Muhammad Idris dari Kerajaan Kutai memerintahkan kepada pemukim-pemukim di sepanjang Teluk Balikpapan untuk menyumbang bahan bangunan untuk membangun istana baru di Kutai Lama. Sumbangan ditentukan berupa seribu lembar papan yang diikat menjadi sebuah rakit yang dibawa ke Kutai Lama.

balikpapan

Setibanya di Kutai lama, ternyata ada sepuluh keping papan yang terlepas dalam perjalanan. Ditemukanlah sepuluh keping papan tersebut terhanyut sampai di suatu tempat yang sekarang disebut Jenebora. Mungkin dari sinilah nama Balikpapan itu diberikan, karena baliklah papan-papan itu.

Apa saja asal muasal nama kota itu, yang jelas sekarang kita dapat menikmati suatu kota yang tata kotanya tidak seperti kota lain di Indonesia. Ada beberapa bagian kota yang berupa hutan rimbun, walau jalan hotmix yang membelahnya sangat rapi. Sangat mengingatkan highways kotakota di Australia atau Amerika.

Kota yang dianggap terlahir pada 10 Februari 1897 ini seperti dirancang seputar aktifitas kilang minyak oleh PERTAMINA dan berbagai maskapai pengeboran minyak asing yang berlomba menyedot kekayaan minyak disana. Tentunya warga Indonesia selain dari Kalimantan sendiri, juga datang dari Sulawesi, Jawa dan lainnya untuk mencari nafkah. Hal ini membuat Balikpapan beraroma kosmopolitan, karena akulturasi berbagai suku di Indonesia yang dibuktikan dari bahasa pengantar sesehari warga yaitu bahasa Indonesia, bukan dialek etnis tertentu. Inilah ciri khas Kota Balikpapan yang tidak didominasi salah satu suku, baik oleh suku asli maupun pendatang.

Keakraban antar suku ini masih dilengkapi dengan suatu monumen kecil dan asri yang cukup menarik, yaitu tentang interaksi Balikpapan dengan Australia! Ternyata antara Mei sampai Agustus 1945, pasukan Australia pernah bekerjasama dengan pasukan Sekutu untuk membebaskan Balikpapan dari pendudukan Jepang. Posisi Balikpapan saat itu sudah dikenal sebagai pelabuhan minyak yang penting, namun tidak terkawal seperti seharusnya. Pertempuran yang didukung Angkatan Udara Australia dan Sekutu itu adalah yang terakhir di kawasan ini dalam Perang Dunia ke II. Sungguh menarik betapa Indonesia dan Australia boleh mengabadikan
persahabatannya melalui piagam memori di kota ini.

Kalau perebutan minyak itu telah berakhir, dan sekarang kota ini telah berkembang karenanya, tetap saja unik betapa kota yang berpotensi menjual kawasan pantai yang melingkari seluruh kotanya – justru tidak memanfaatkannya!

Tampaklah betapa kota ini seakan dirancang untuk membelakangi garis pantai. Seakan aktifitas bisnis dan keuangan hanya dipercaya datang dari aktifitas perdagangan di dalam kota. Padahal pantai itu seharusnya menjadi aset kota yang pasti sangat laku dijual sebagai daya tarik wisata secara internasional. Hal ini mengingatkan juga pada Jayapura, yang berada di teluk yang sangat indah. Namun bila ada di dalam kota, sangat sulit kita mencari celah untuk mengintip kecantikan perairan teluk dimana kota itu berada! Di dalam kota Balikpapan, segera terasa kerapian dan kebersihan perkotaan yang pasti dipengaruhi oleh etos kerja lingkungan perkilangan minyak nasional ataupun asing. Dimana-mana tampak pembangunan yang sangat bergairah dari perkantoran dan mal-mal yang dinamis. Kota ini sedang menikmati pembangunan yang berasal dari otonomi daerahnya. Namun, sebagai turis di dalam kota, kita hanya bisa menjumpai deretan ruko dan mal tanpa mudah menikmati sebentang pasir landai yang bernama pantai! Balikpapan mungkin sudah memilih berbalik badan membelakanginya!

Teks & Foto: Paul I. Zacharia|LionMag October 2010

← Next post Previous post →
admin tagged this post with: , Read 107 articles by

Reservasi Tiket

ChitChat

Reservasi Hotel dan Tiket Kereta

reservasi-tiket-pesawat reservasi-tiket-pesawat

Jadwal Penerbangan